Selasa, 16 Oktober 2012

USMAN BIN AFAN


A.    Usman bin Affan Sebelum Masuk Islam
Utsman dilahirkan di Mekkah pada tahun 573 masehi bertepatan dengan tahun ke enam dari kelahiran nabi SAW. Nama lengkapnya adalah Usman bin Affan bin Abul As bin Umayyah bin Abdu Syams. Usman bin Affan berasl dari kabilah Bani Umayyah. Pada masa itu, Usman bin Affan menjalankan kafilah dagang bersama kerabatnya dari Bani Umayyah.

Utsman adalah saudagar sukses yang berlimpah kekayaan harta. Namun, meski demikian beliau dikenal sebagai sosok yang rendah hati, pemalu, dan dermawan sehingga beliau begitu dihormati oleh masyarakat di sekelilingnya. Ketika itu ia sudah bersahabat dekat dengan Abu Bakar as-siddiq. Sebagai sesama pedagang, mereka sering berhubungan dalam menjalankan usahanya.

B.     Usman bin Affan Setelah Masuk Islam
Utsman bin Affan termasuk golongan yang awal masuk Islam atau as-sabiqunal awwalun. Ia menerima ajaran islam berkat ajaran bu Bakar as-Siddiq. Dengan harta kekayaannya, Usman bin Affan membantu perjuangan dakwah Islam. Ketika budak-budak yang masuk Islam disiksa oleh tuannya, ia memerdekakan beberapa orang diantara mereka.

Dibandingkan sahabat-sahabat yang lain, Usman bin Affan memiliki sifat-sifat yang berbeda. Sifat-sifat tersebut antara lain:
1.      Rasa malu
Tidak seorang pun diantara sahabat Nabi Muhammad SAW, yang memiliki rasa malu seperti Usman bin Affan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Nabi Muhammad SAW, bersabda, ”Tidaklah engkau malu pada seorang lelaki di mana Malaikat pun sangat malu kepadanya.”
2.      Pemurah
Usman bin Affan adalah orang yang sangat dermawan. Tidak seorang pun dari orang Quraisy yang lebih dermawan dari’nya.

Usman bin Affan menikah dengan dua putri Nabi Muhammad SAW, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kalsum. Ia menikah dengan Ummu Kalsum setelah Ruqayyah meninggal. Oleh karena itu Usman bin Affan mendapat julukan zu nurain atau memiliki dua cahaya.

Ketika tantangan kaum kafir Quraisy semakin berat, Nabi Muhammad SAW memerintahkan kaum muslimin kaum muslimin hijrah ke Habsyah. Pada waktu itu, Usman bin Affan juga berhijrah dengan istrinya, Ruqayyah beserta sahabat-sahabat yang lain. Pada waktu kaum muslimin hijrah ke Madinah, Usman bin Affan juga mengikutinya. Ia rela meninggalkan harta bendanya di Mekkah utuk berhijrah ke Madinah. Setelah itu, ia tidak pernah tertinggal dalam perjuangan membela Islam.

Pada tahun 6 H (627 M), Nabi Muhammad SAW, menerima perintah untuk mengerjakan ibadah haji. Kaum muslimin kemudian berangkat menuju Mekkah. Dalam perjalanan menuju Mekkah terjadi kesalah pahaman. Kaum Quraisy Mekkah mengira bahwa kaum muslimin akan menyerang meraka. Oleh karena itu, kaum Quraisy segera melakukan persiapan perang. Mengetahui hal itu, Nabi Muhammad SAW segera mengirimkan utusan untuk menjelaskan bahwa kedatangan mereka bemaksud damai. Kaum muslimin semata-mata hanya ingin menunaikan ibadah haji. Salah satu utusan itu adalah Usman bin Affan. Peperangan berhasil dihindarkan dan Perjanjian Hudaibiyah yang sangat termasyhur.

Ketika terjadi Perang Tabuk pada tahun 631 M, Usman bin Affan menanggung sepertiga biaya perang. Ketika itu, kaum Muslimin enggan untuk berangkat perang. Hal itu disebkan cuaca yang panas dan terik. Usman bin Affan menyumbangkan 950 ekor unta, 50 ekor kuda, dan uang uang 1.000 dinar sebagai biaya perang. Akhirnya kaum muslimin berhsil memperoleh kemenangan terbesar dalam perang tersebut. Nabi Muhammad SAW. Kemudian bersabda, “Tidak ada yang membahayakan Usman bin Affan, apa pun yang dia lakukan sesudah ini.”

Usman bin Affan ikut berperan penting dalam pemerintahan Abu Bakar as-Siddiq dan Khalifah Umar bin Khattab. Ia merupakan penasihat yang utama dalam masa pemerintahan keduanya. Usman bin Affan juga merupakan salah satu dari sepuluh orang yang mendapat jaminan surga dari Nabi Muhammad SAW. Beliau pernah bersabda, ”Sesungguhnya tiap nabi akan teman dan temanKu di surga adalah Usman bin Affan.”

C.    Masa Pemerintahan Usman bin Affan
Ketika Umar bin Khattab sedang sakit, ia menunjuk Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqas untuk memilih saah satu di antara mereka sebagai khalifah. Pada waktu itu, Talhah bin Ubaidillah tidak ada di rumah. Kelima orang itu bersepakat mengangkat Usman bin Affan menjadi khalifah. Musyawarah itu berlangsung di rumah Abdurrahman bin Auf, pada waktu itu Usman bin Affan berusia 70 tahun.

Secara umum, masa pemerintahan Usman bin Affan meliputi dua periode yang masing-masing berlangsung selama enam tahun. Periode enam tahun pertama ditandai berbagai keberhasilan dan kejayaan. Periode enam tahun kedua ditandai oleh perpecahan, pergolakan, dan pemberontakan dalam negeri.

Pada tahun-tahun pemerintahannya Usman bin Affan meneruskan kebijaksanaan pendahulunya, Umar bin Khattab. Ketika itu, Umar bin Khattab berpesan agar wali (gubernur) yang di angkatnya jangan diganti atau dipindahkan dalam jangka waktu setahun.

Hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi keguncangan dan gangguan keamanan. Berdasarkan pesan itu, Usman bin Affan mengukuhkan beberapa gubernur di beberapa wilayah, yaitu:
1. Amru bin As Gubernur Mesir dan Syam;
2. Mu’awiyah bin Abu Sufyan sebagai Gubernur Irak yang juga meliputi wilayah Azerbaijan dan Armenia; 
 3. Abu Musa al-Asy’ari sebagai Gubernur Iran yang mencakup Khurasan dan Basra.

Usman bin Affan benar-benar melaksanakan pesan Umar bin Khattab itu. Pada tahun berikutnya, barulah Usman bin Affan mengganti atau memutasikan pejabat-pejabat bawahannya. Selain itu, seiring berkembangnya wilayah Islam, Usman bin Affan juga mengangkat pejabat-pejabat baru. Kecuali yang disebut diatas, pejabat-pejabat pada masa Usman bin Affan merupakan kerabatnya dari Bani Umayyah. Yang paling terkemuka diantara mereka ialah Marwan bin Hakam, saudara sepupu Usman bin Affan. Ia diangkat menjadi sekretaris negara.

Kebijakan itu telah mendapat tanggapan yang kurang baik. Hal itu dikarenakan Marwan bin Hakam menjadi tokoh yang lebih menentukan dibanding Usman bin Affan sendiri. Usman bin Affan seakan menjadi boneka didepannya.

Sejak itu, permasalan kebijakan perbandaharaan negara mulai muncul. Menurut Usman bin Affan, khalifah mempunyai wewenang untuk menggunakan kekyaan umum bagi kemaslahatan umat. Selama memangku jabatan, khalifah berhak mengatur kepentingan kaum muslimin. Sikap ini membedakannya dari dua khalifah sebelumnya.

D.    Perluasan Wilayah Islam
Pada masa Usman bin Affan, kaum muslimin melanjutkan penaklukan-penaklukan. Usman bin Affan melanjutkan kebijakan Umar bin Khattab. Penaklukan itu berlangsung melewati jalur darat dan laut.

Ancaman terbesar waktu itu datang dari Bizantium. Mereka sering kali menyerang daerah perbatasan pantai muslim di Suriah dan Mesir. Pada tahun 646 M, pasukan Bizantium berhasil menduduki Iskandariah. Akan tetapi Amr bin As yang menjabat sebagai gubernur Mesir berhasil mengusir mereka kembali. Pada tahun 651 M, pasukan Bizantium kembali menyerbu Mesir. Abdullah bin Abi Sarah yang menggantikan Amru bin As sebagai gubernur berhasil mengalahkan mereka. Keadaan ini menyadarkan Usman bin Affan bahwa kaum muslimin memerluakan sebuah angkatan laut yang kuat. Usman bin Affan kemudian memerintahkan Mu’awiyah bin Abu Sufyan untuk membentuk angkatan laut yang berkemampuan tinggi. Dengan dukungan angkatan laut tersebut, kaum muslimin berhasil memperluas wilayahnya.

Beberapa panglima perang yang terlibat dalam perluasan wilayah Islam adalah sebagai berikut :
1.      Abdullah bin Abi Sarah
Ia merupakan pengganti Amru bin As sebagai Gubernur Mesir. Ketika pasukan Bizantium menyerbu Mesir pada tahun 651 M, ia berhasil mengusir mereka. Setahun berikutnya, Abdullah bin Abi Sarah menyiapkan pasukan Bizantium. Ia berhasil merebut pangkalan mereka di Tarablis (tripoli). Gubernur Bizantium disana yang bernama Gregorius berhasil di kalahkan pada tahun 652 M.
2.      Mu’awiyah bin Abu Sufyan
Ia adalah putra dari Abu Sufyan bin Harb, seorang tokoh Quraisy yang terkenal dari Bani Umayyah. Mu’awiyah bin Abu Sufyan berhasil membentuk angkatan laut yang tangguh. Ia bertempur melawan pasukan Bizantium di Pantai Kalkilia. Perang itu merupakan perang laut yang pertama bagi kaum muslimin dan terkenal dengan nama Perang Zatu SAWri. Dengan bantuan Abdullah bin Abi Sarah, ia berhasil menguasai Amuriyah dan Pulau Siprus pada tahun 33 H (653 M). Dalam perang itu, Kaisar Konstantin terbunuh.
3.      Umair bin Usman
Pada tahun 29 H (649 M), ia berhasil menguasai Fergana.
4.      Abdullah al-Laisi
Ia berhasil menguasai Kabul.
5.      Abdullah at-Tamimi
Ia memimpin pasukan muslim menguasai Hindustan. Daerah tersebut semula dikuasai orang-orang Hindu.
6.      Sa’id ibnu As
Ia berhasil menguasai Jurjan.
7.      Abdullah bin Amir
Ia memimpin pasukan muslimin menghadapi pemberuntakan Yazdajird. Ia ialah Kaisar Persia yang dikalahkan Umar bin Khattab. Ia mengorbankan perlawanan di Kirman. Ketika terdesak ia melarikan diri ke Khurasan. Akhirnya, Yazdajird terbunuh disana. Beberapa wilayah yang melanggar kesepakatan dengan kaum musimin di tundukkan oleh Abdullah bin Amir.

E.     Menyusun Mushaf Al-Qur’an
Terus berkembangnya wilayah Islam membuat pemeluk agama islam makin bertambah. Disetiap wilayah yang baru, di situ pula Al-Qur’an ditinggalkan. Bahkan, tidak hanya tulisannya yang di tinggalkan, tetapi juga penghapalnya. Tulisan Al-Qur’an yang ditinggalkan itu beragam bentuknya, susunan surah-surahnya dan dialeknya. Hal itu menimbulkan banyak perselisihan, perpecahan dan pertengkaran dikalangan umat islam.
Orang yang mula-mula menaruh perhatian terhadap hal ini adalah Huzaifah bin Yaman. Ia kemudian mengusulkan Usman bin Affan agar menyelesaikan masalah ini. Langkah awal yang dilakukan oleh Usman bin Affan adalah meminta kumpulan naskah Al-Qur’an yang disimpan oleh Hafsah binti Umar. Naskah ini merupakan suatu kumpulan tulisan Al-Qur’an yang berserakan pada masa Abu Bakar as-Siddiq. Usman bin Affan kemudian membentuk sebuah panitia penyusun Al-Qur’an.

F.     Peristiwa Fitnah
Peristiwa ini terjadi pada periode keduapemerintahan Usman bin Affan. Sebab terjadi peristiwa itu adalah sebagai berikut:
1.      Kebijakan Usman bin Affan yang mengangkat kerabat-kerabatnya dari Bani Umayyah sebagai pejabat pemerintahan menaimbaulkan rasa iri dari kaum muslimin. Mereka melihat bahwa Bani Umayyah mempunyai kedudukan yang tingggi dalam pemerintahan. Meraka juga memiliki hak –hak istemewa dan kekayaan yang belimpah. Padahal, Bani Umayyah orang-orang yang terakhir menerima Islam. Banyak dari mereka menerima islam berdasarkan keuntungan duniawi. Mereka menyadari mereka akan tetap kalah apabila mereka masih tetap memnyembah berhala. Beberapa pejabat dari Bani Umayyah menunjukkan periaku yang tidak baik. Hal itu ditunjukkan oleh Walid bin Uqbah, Gubernur Irak. Ia datang kemesjid dalam keadaan mabuk. Keadaan itu memunculkan perlawanan terbuka. Pada tahun 30 H, Walid bin Uqbah menjatuhkan hukuman mati kepada tiga pemuda yang membunuh Ibnu Haisuman al-Khuza’i. Hukum mati itu mengundang kemarahan Bani Azad, keluarga pemuda yang dihukum.
2.      Hilangnya pengaruh kaun Ansar Madinah dan Bani Hasyim juga menjadi sebab yang penting. Kedua golongan tersebut kehilangan hak-hak mereka dalam urusan pemerintahan. Hal itu menyebabkan kedua golongan tersebut Bani Umayyah.
3.      Pengangkatan Mawan bin Hakam sangat tidak disukai oleh masyarakat muslim. Ia adalah orang yang sangat mementingkan diri sendiri. Ia juga merencanakan agar Bani Umayyah dapat menguasai pemerintahan Islam.
4.      Kesederhanaan dan kemurahan hati Usman bin Affan menjadi penyebab bencana bagi dirinya. Ia terlalu mempercai Marwan bin Hakam. Hal itu membuat pemerintahan makin buruk. Akibatnya, banyak orng yang membuat kerusuhan di daerah. Seharusnya Usman bin Affan mampu mengatasi hal itu dengan kekerasan dan ketegasan. Akn tetapi, ia tidak melakukan hal itu krena kelembutan hatinya.
5.      Pembuangan Abu Darda al-Ghifari telah membangkitkan kemaran kaum muslimin. Abu Darda al-Ghifari adalah orang yang sangat saleh. Ia membela kepentingan rakyat kecil. Ia telah mendesak Gubernur Suriah agar mewajibkan orang-orang kaya menyisihkan sebagian hartanyabagi kepentingan kaum miskin. Akan tetapi, Mu’awiyah bin Abu Sufyan melporkannya sebagai penghasut kepada Usman bin Affan. Akhirnya, ia dibuang dan dikucilkan di Desa Rabadah.
6.      Kaum munafik telah menyebarkan fitnah dan hasutan. Mereka dipimpin oleh Abdullah bin Saba’. Ia adalah seorang Yahudi yang berasal dari Yaman dan berpuara-pura masuk Islam. Ia menghasut kaum muslimin agar memberptak kepada khalifah.

Keadaan itu menyebabkan kaum muslimin menjadi kacau. Dikota Kufah dan Basrah, rakyat menentang gubernur-gubernur yang diangkat oleh Usman bin Affan. Di Mesir, Abdullah bin Saba’ mendakwahkan hak Ali bin Abi Thalib yang sah untuk menjabat sebagai khalifah. Ia menyebarkan pemikiran Yahudi tentang Mesiah. Abdullah bin Saba’ menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib akan datang sebagain al-Mahdi atau penyelamat dunia.

Pemberontakan pertama pecah di Mesir. Mereka mengusir gubernur. Kemudian, sekitar 600 orang pemberontak datang ke Madinah. Dalam perjalanan, para pemberontak dari Kuffah dan Basrah ikut bergabung. Mereka mengamukakan keluhan-keluhan terhadap Usman bin Affan. Keluhan itu ditanggapi oleh Usman bin Affan dengan mengangkat Muhammad bin Abu Bakar sebai Gubernur yang baru. Para pemberontak itu kelihatannya puas dan kembali kedaerah masing-masing.

G.    Wafatnya Usman bin Affan
Setelah para pemberontak itu kembali ke daerah masing-masing, tampaknya permasalahan sudah selesai. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka mereka malah kembali lagi ke Madinah. Ali bin Abi Thalib mencegah mereka agar tidak melakukan keonaran. Ali bin Abi Thalib menanyakan kepada mereka mengapa kembali ke Madinah. Mereka berkata bahwa mereka telah mencegat seorang pembantu khusus Usman bin Affan yang membawa sepucuk surat kepada Gubernur Mesir, Abdullah bin Abi Sarah. Surat itu ditulis oleh Marwan bin Hakam yang meminta Abdullah bin Abi Sarah untuk membunuh mereka setibanya di Mesir.


Oleh karena itu para pemberontak meminta Usman bin Affan menyerahkan Marwan Bin Hakam. Tuntutan itu tidak bisa dipenuhi Usman bin Affan. Mereka kemudian mengepung rumah khalifah. Pada saat yang berbahaya itu, sahabat dan kerabat Usman bin Affan telah meninggalkannya. Pada tanggal 17 Juni 656 M (35 H), para pemberontak menyerbu rumah Usman bin Affan. Mereka membunuh Usman bin Affan yang sedang membaca Al-Qur’an. Usman bin Affan meninggal sebagai syahid pada usia 82 tahun. Pemerintahannya berlangsung selama 12 tahun.

Terbunuhnya Usman bin Affan akibat-akibat yang merugikan Islam. Beberapa akibat ter sebut adalah sebagai berikut :
1.  Pembunuhan Usman bin Affan membangkitkan semangat kesukuan Arab yang telah lama hilang sebagai hasil ajaran Nabi Muhammad SAW.
2.    Peristiwa tersebut memecahkan kesatuan umat Islam. Bani Umayyah dan Bani Hasyim menjadi dua golongan yang bersaing dan bermusuhan. Demikian juga kaum Ansar Madinah dan Bani Umayyah Mekkah.
3.   Kota Madinah kehilangan kedudukannya sebagai pusat kekhalifahan. Osisi iitu bergeser ke Kufah dan Damaskus. Kaum ansar juga kehilangan kedudukan mereka dalam pemerintahan.
4.    Gerakan perluasan wilayah Islam mengalami kemunduran. Hal itu disebabkan kesulitan-kesulitan yang timbul dalam pemerintahan.
5.   Peristiwa yang menyebabkan pecahnya perang saudara dalam Islam. Perang saudara itu kemudian memunculkan golongan-golongan dalam Islam, seperti Suni, Syi’ah, dan Khawarij.

Demikianlah, pembunuhan Usman bin Affan merupakan peristiwa yang sangat merugikan Islam. Usman bin Affan termasyhur karena kesalehan dan kejujurannya. Ia sangat taqwa dan sederhana dalam hidupnya. Kesederhanaan dan kedermawanan merupakan ciri utama wataknya yang menonjol. Walaupun hidupnya berakhir tragis, Usman bin Affan telah memberikan sumbangan yang berharga bagi umat Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...